Tampilkan postingan dengan label motherhood. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motherhood. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Mei 2019

Sensatia Botanicals Aloe Vera Botanical Gel

Kali ini saya ingin menulis tentang first impression produk Aloe vera Gel. Jujur saya telat paham dan masih berusaha memahami tentang pentingnya skincare. Terutama setelah baca Instagram milik dr. Mita dan mbak Kinan. Dan rupanya saya ketinggalan banyak dan jauh.

Setelah sering mengalami sunburn (walau memang warna kulit saya cenderung gelap), akhirnya saya searching juga tentang bagaimana cara mengatasinya. Dan hasilnya adalah Aloe vera atau lidah buaya bisa mendinginkan kulit yang terpapar sinar matahari. Selanjutnya adalah mencari produknya. Rupanya produk Aloe vera Gel sangat banyak dan menarik hati terutama brand dari Korea. Namun pada akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada produk lokal yaitu Aloe vera Botanical Gel dari Sensatia Botanicals.



Alasannya adalah karena setelah saya hamil dan menyusui saya jadi lebih selektif dalam memilih produk skin care yaitu menitikberatkan pada kehalalan dan minim bahan kimia. Jadi saya cenderung ke produk yang alami.



Setelah menimbang-nimbang akhirnya belilah Sensatia Botanicals Aloe Vera Botanical Gel di Sociolla (karena free ongkir dan pasti original).

Kesan pertama untuk Sociolla adalah packingan nya bagus, pakai kardus dan bubble wrap di produknya.


Kesan untuk Sensatia Botanicals :
1.  Desain dan warna kemasannya bagus.
2. Excited banget karena logo halal dan kode POM nya terpampang jelas serta tanggal expired nya juga tertulis jelas di tube nya.

 

3. Teksturnya agak cair karena water based mungkin ya
4. Setelah dipakai di wajah rasanya adem dan cepat menyerap


First impression is...😍😍😍😍😍
Semoga cocok di saya.

Kamis, 01 November 2018

Berkenalan dengan Mom Shaming Yuk

Mom shaming adalah perilaku mengkritik gaya parenting ibu lain dengan terbuka, karena gaya itu berbeda dengan yang kita percayai / biasa lakukan. Akibatnya? Ibu lain akan merasa dipermalukan dan merasa buruk dengan pilihannya sendiri.



Rasanya saya pernah menjadi korban Mom Shaming ini, terutama setelah lahiran. Tapi alhamdullilah tak berlarut lama. Kalau kelamaan konon katanya bisa bikin down dan hilang percaya diri. Memang benar begitu lho.



Siapa pelaku Mom Shaming?
Bisa siapa saja termasuk sesama ibu-ibu, keluarga dan orang terdekat. Menurut saya paling berat menghadapinya kalau pelakunya adalah keluarga dan orang terdekat.


Bagaimana agar tidak menjadi korban Mom Shaming ini?
Yang pasti siapkan benteng pertahanan diri, kuatkan keimanan dan mental, lapangkan hati dan jiwa. Kalau dirasa kondisi diri kita sedang tidak bisa menerima perkataan orang lain ya siapkan telinga yang tebal, jangan masukkan perkataan orang lain ke dalam pikiran dan hati. Seandainya kondisi diri kita sedang stabil maka jangan diterima mentah-mentah perkataan orang lain. Pintar-pintar menyaring mana yang bisa dipakai, mana yang harus dibuang.


Kalau sudah menjadi korban Mom Shaming bagaimana?
Jawabannya adalah jangan larut terlalu lama. Nah, supaya efeknya tidak berlarut lama, pertama terima dulu, lalu fahami kondisi pelaku Mom Shaming dengan segala kemungkinannya, selanjutnya saring perkataannya, lepaskan yang tidak perlu dan jangan ada pikiran untuk membalasnya, maafkan dia. 

Kembalikan dan kuatkan diri bahwa kita diberi amanah seorang anak, pasti kita bisa jadi orang tua terbaik untuk anak kita walaupun tak sempurna dan tak sesempurna orang lain. Karena pola asuh dan perkembangan anak itu berbeda-beda, tidak ada istilah "one size fits all". Yakin bahwa ibulah yang paling mengenal anaknya sendiri. Parenting bisa dipelajari, namun tidak untuk diduplikasi.




Terakhir yang tak kalah pentingnya adalah kita bisa jadi pelaku Mom Shaming juga lho. Padahal kita tak berniat begitu dan sering tak menyadarinya. Waah...maafkan saya jika pernah menyinggung hati ibu-ibu sekalian ya. Sungguh tak ada maksud begitu.

Supaya tidak menjadi pelaku Mom Shaming rasanya perlu introspeksi diri. Sebelum berbicara ke orang lain, coba koreksi apa yang akan kita katakan, ditujukan untuk siapakah, apakah bermanfaat, akankah menyinggung perasaan. Lihat juga kondisi lawan bicara kita, siapkah dia. Terpenting adalah perhatikan cara penyampaian serta susunan kalimat yang akan kita digunakan.



Kurang lebih itulah yang bisa saya ambil dari Kulwap Momistudy yang diadakan oleh Momikologi bulan Oktober kemarin. Dengan narasumber Mom Ega Asnatasia Maharani, M.Psi., Psikolog dengan tema Mom Shaming, "Ketika Pilihan Pribadi Tak di hargai".

Untuk lebih lengkapnya tentang seluk beluk Mom Shaming ini bisa langsung ke blog nya Momikologi atau follow Instagram nya ya.

Kamis, 18 Oktober 2018

#ILoveMyImperfections, Saat Pilihan Menjadi Working Mom Tiba

Bagi saya, pilihan menjadi Working Mom tiba saat lowongan CPNS terbuka lebar. Bagaimana tidak, restu suami, restu orang tua dan restu mertua terkantongi selama itu penempatan di Jogja. Yang artinya juga saat itulah ada kesempatan keluarga kecil kami untuk kembali ke Jogja, dekat dengan orang tua, dekat dengan sanak saudara. Sebagai wujud bakti kami kepada kedua orang tua juga pastinya dan banyak nilai positif lainnya juga untuk si kecil kami terutama bisa mengenal siapa saja saudaranya, mengenalkan makna silaturahim. Mungkin juga jika lolos sebagai CPNS, beberapa mimpi saya akan terwujud, tentu atas kehendak Nya.

Namun, saat itu pula ada kekhawatiran yang saya rasakan jika kelak saya benar-benar diterima yaitu bagaimana dengan pengasuhan anak-anak sehari-hari. Dilema ini selalu menyeruak semenjak saya menjadi seorang ibu. Saya merasa akan kehilangan banyak waktu bersama si kecil, akan banyak milestonenya yang saya lewatkan. Ya karena menjadi seorang PNS berarti waktu kerjanya pasti dari jam sekian sampai jam sekian, tidak fleksibel. Saya tidak akan bisa berada disisi si kecil di waktu aktifnya.

Sumber gambar : https://pinterest.com/pin/507147608036051251/?source_app=android

Belum lagi memikirkan sehari-hari si kecil dengan siapa, rasanya galau-galau sedap. Pengasuhan tidak hanya menjaga si anak saat orang tuanya pergi. Tapi mengasuh itu juga mendidik, menanamkan nilai dan menanamkan karakter. Pengasuhan itu semacam tiang utama bagaimana orang tua ingin membentuk anaknya seperti apa. Mungkin mempercayakan si kecil kepada kakek dan neneknya bisa menjadi pilihan terbaik. Tapi bukankah itu memperberat masa tuanya. Sedih juga rasanya saya, sudah berumahtangga tapi masih juga merepotkan orang tua. Kapan saya bisa berbakti. Mencari pengasuh juga ngeri-ngeri sedap, apalagi jaman sekarang. Saya juga merasa tidak rela anak saya diasuh oleh orang lain yang saya tak paham kepribadian dan pendidikannya. Pilihan lain mungkin daycare. Well itu tadi cuma bayangan kekhawatiran seorang ibu biasa seperti saya.

#ILoveMyImperfections
Nah di saat kesempatan menjadi Working Mom ini terbuka lebar biasanya muncul rasa bersalah dalam diri saya. Bersalah pada suami dan anak. Merasa tak sempurna karena saya tak bekerja. Tapi ketika membayangkan saya diterima bekerja, saya akan sangat merasa bersalah kepada anak.

Mungkin jika diterima, hal pertama yang akan saya lakukan adalah meminta maaf kepada si kecil karena tidak bisa menemaninya seperti dulu. Hal kedua adalah meminta maaf kepada suami karena pasti akan banyak pekerjaan rumah tangga yang menjadi kewajiban saya terbengkalai. Hal ketiga adalah meminta maaf kepada orang tua jika saya menitipkan si kecil kepada mereka. Mellow amat..tapi ini baru kemungkinan kok.

Saat dihadapkan dengan kesempatan menjadi Working Mom saya bisa pusing tujuh keliling. Inilah hal terberat semenjak menjadi ibu, emosi, pikiran dan jiwa rasanya teraduk-aduk. Bukan lagi tentang repotnya memasak, bikin menu MPASI, meng-ASI-hi, harus dirumah menemani anak dan sebagainya, semua ini bisa saya pelajari dan saya yakin bisa. Bukannya saya tidak mau bekerja, toh sebelumnya saya juga pekerja dan tahu suka dukanya menjemput rezeki. Saya hanya memikirkan anak dan tanggungjawab saya tentang anak serta rumah tangga, itu saja.

Sumber gambar :  https://pinterest.com/pin/507147608036051161/?source_app=android

Pada akhirnya saya tidak boleh berlama-lama larut dalam perasaan bersalah dan kekhawatiran ini. Saya harus menerimanya sebagai bentuk mencintai diri sendiri. Menjadi ibu memang tidak akan bisa sempurna, entah Working Mom, Stay at Home Mom, maupun Working at Home Mom. Semua punya perjuangannya masing-masing. Semua punya pengorbanannya masing-masing. Dan saya harus mencintai ketidaksempurnaan saya, #ILoveMyImperfections.

Meluangkan #5MenitAja
Meluangkan sedikit waktu untuk sekedar berdiam diri, menghela nafas, menyerahkan segala ketentuan pada Allah merupakan cara saya untuk menawar rasa bersalah yang muncul karena merasa tidak sempurna menjadi seorang ibu.

Meluangkan #5MenitAja untuk mengingat nikmat Allah yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk membersamai tumbuh kembang si kecil selama ini bisa membuat saya bersyukur dan bersemangat kembali.

Meluangkan waktu untuk membaca cuplikan komik persatuan ibu-ibu di Instagram sudah bisa membuat saya tersenyum lega karena merasa tak sendiri. Membaca artikel seperti tabloid Nova terutama bahasan yang ringan tapi membangun juga bisa menjadi pilihan untuk menepis perasaan negatif yang muncul.

Selanjutnya saya tetap akan ikut tes CPNS seperti sebelum-sebelumnya sebagai wujud ikhtiar saya agar kami sekeluarga bisa pindah ke Jogja. Juga sebagai wujud ikhtiar menjemput rezeki jika kelak kami pindah ke Jogja. Bagi keluarga yang sudah merantau seperti keluarga kami, pilihan untuk kembali ke kampung halaman memang tak mudah. Banyak hal harus dipikirkan dan direncanakan. Bagaimana agar asap dapur tetap mengepul juga tentang masa depan.

Tentang kekhawatiran yang saya rasakan, saya yakin jika Allah sudah berkehendak pasti sepaket dengan solusi dan Allah pasti memampukan. Banyak kok Working Mom diluar sana yang bisa tetap menjalankannya peran sebagai istri dan ibu dengan baik. Allah punya banyak jalan, Allah punya banyak pintu. Allah juga pasti akan menghadirkan banyak hikmah dan kebaikan-kebaikan lain yang lebih indah. Seperti salah seorang teman saya ini, dia luar biasa. Bisa jadi penambah semangat kan.


Sumber gambar : Instagramnya Anggi
Maaf ya Nggik, ijin pake gambarmu disini, inspiring banget, proud of you 👍👍

Sekali lagi saya selalu yakin bahwa Allah adalah sebaik-baik pembuat skenario kehidupan dengan kejutan-kejutan tak terduga. Jika Allah sudah menghendaki, maka itulah yang terbaik. Hanya kepada Nya lah tempat bergantung dan kembali. Sebagai manusia tugas kami adalah berikhtiar dan berdoa. Selanjutnya adalah bersyukur dan bersabar. Allah yang menentukan.


Selasa, 02 Oktober 2018

#modyarhood : Style Apa Adanya

Modyarhood yang di nanti telah tiba lagi. Kali ini mengangkat tema style before and after motherhood. Hmmm...kalau saya sepertinya tetap apa adanya. Sebelum lanjut, ada baiknya intip dulu blognya mbak Puty dan mbak Okke biar kenal lagi tentang apa itu #modyarhood.


Sumber gambar : pinterest

Kembali ke bahasan utama yaitu style before and after motherhood :
1. Make up
Pada dasarnya saya gak suka dandan jadi ya gak bisa dandan. Jaman kerja baru kenal pakai lipstik, bedak, cream. Ya cuma pakai itu. Dan rasanya muka juga gak mempan pakai make up hehehe...
Lebih nyaman gak pakai make up karena gak ribet dan gak repot pas mau sholat. Saya yang gak paham make up ini juga ngebayangin kalau make up nya ada yang waterproof gimana nanti wudhunya. Setelah punya anak kembali lagi ke asal yaitu gak dandan karena benar-benar gak sempat kalau gak di sempatin. Kalau pergi keluarpun juga paling pol makan di luar sama suami dan belanja bulanan.


2. Skin care
Saya baru kenal skin care juga pas pertama kerja di kebun. Yaitu sun screen, lanjut kenal krim malam dan krim pagi. Tapi gak telaten juga pakainya. Setelah punya anak saya baru berkaca...dan ternyata kusam nya... Dari sinilah saya berburu skin care yang aman untuk busui. Alhamdulillah dapat dan produk lokal pula. Dari sini juga saya jadi tahu step dasar skin care. Semoga bisa istiqomah biar wajah cling seperti Song Hye Kyo dan gak usah make up an lagi hahahaha...


3. Pakaian
Saya penyuka Tunik sebenarnya, tapi selanjutnya saya lebih suka dress panjang. Dari dulu suka yang simpel. Sebelum menikah dan punya anak, bisalah pakai Tunik dengan celana, dress panjang, blouse dengan rok lebar. Jilbab segiempat dan pashmina. Sepatu paling suka flatshoes tapi pakai wedges juga jaman ngantor. Nah setelah punya anak saya menyadari bahwa pakaian itu investasi masa depan. Kenapa? Karena pakaian yang pas badan, tak berkancing depan, tak lebar itu semua tidak terpakai saat hamil dan menyusui. Tapi pakaian yang longgar, ada bukaan depan itulah bentuk investasi pakaian. Selain menghemat uang juga longlast manfaatnya. Saat hamil akhirnya kain-kain yang ada saya jahit menjadi basic dress berkancing depan dengan variasi sesuai motif kain. Basic dress ini bisa dipakai acara formal juga. Daster juga menjadi pakaian favorit setelah punya anak. Untuk jilbab, setelah punya anak saya menghindari yang pakai peniti dan bross. Jadi jilbab instan yang lebar menjadi pilihan saya karena praktis dan bisa jadi apron menyusui.


Sekian kisah style before and after motherhood versi saya yang effortless banget ya hehe...

Sabtu, 15 September 2018

Menjadi Working from Home Mom?

Beberapa kali terpikir oleh saya untuk bekerja kembali dari rumah, memulai lagi Honey Handmade yang hampir dua tahun vakum karena saya hamil dan melahirkan. Rasanya kangen jahit-jahit tas lagi, hunting kain cantik, gambar desain tas dst. Di tambah beberapa customer ada yang menanyakan. Tapi setelah berulang kali saya pikirkan, sepertinya tak semudah sebelum ada Mufa. Benar juga kata orang bahwa anak semakin besar, tantangannya semakin banyak, semakin tidak bisa di-sambi dan harus diawasi karena dia semakin aktif. Beda halnya saat dia masih bayi.

Sumber gambar :  http://pinterest.com/pin/507147608035637209/?source_app=android

Bekerja dari rumah atau biasa disebut Working from Home Mom kian populer saat ini karena dianggap memberikan solusi agar para ibu bisa membersamai anak sekaligus berpenghasilan tanpa harus keluar rumah. Apalagi jaman digital seperti sekarang, banyak pekerjaan bisa di handle dari rumah tanpa haus dandan dan terkena macet di jalan, dasteran pun bisa. Urusan rumah beres, anak terjaga, aktualisasi diri terpenuhi, penghasilan pun didapat. Ideal bukan?

Dream craft room
Sumber gambar :  http://pinterest.com/pin/507147608035638020/?source_app=android

Tapi apakah iya seperti itu? Setelah berulang kali saya pikirkan ternyata saya bukan manusia super yang bisa mengerjakan semuanya sendirian. Honey Handmade juga belum bisa di delegasikan ke orang lain. Pasti ada yang dikorbankan, bisa jadi pekerjaan rumah, anak, suami, maupun diri sendiri. Apalagi jika deadline banyak, sudah terbayang bagaimana uring-uringannya saya. Dampaknya pasti negatif.

Apa yang saya pikirkan itu terjawab di kulwap Momystudy 9 yang diadakan oleh Momikologi bulan ini. Mengusung tema Working from Home Mom dengan narasumber mbak Puty Karina Puar, seorang Working from Home Mom idolaku dengan karya-karya apik-nya yang sangat mewakili kami para ibu.

Sumber : Momikologi

Banyak hal yang bisa diambil manfaatnya dari kulwap ini dan menjadi catatan penting serta menjelaskan secara rinci dari apa yang berputar di benak saya tentang keinginan untuk kembali menjadi Working from Home Mom.

Berdasarkan sharing session dengan mbak Puty, ada beberapa yang perlu diperhatikan untuk menjadi Working from Home Mom, yaitu :
1. Kenali apa yang mau dan mampu kita kerjakan.
Sebelum memutuskan menjadi Working from Home Mom, kita harus memahami usaha apa yang akan kita jalankan dari rumah. Usahakan ini adalah kerjaan yang kita bisa enjoy. Jangan yang tambah bikin stress. (Misal tidak suka masak, eh buka katering).

Mengenali batasan kemampuan diri secara fisik dan emosional jika menjadi Working from Home Mom, ini bisa diukur dari :
  • Usaha yang kita kerjakan dari rumah apakah dikerjakan sendiri atau bisa didelegasikan? Seberapa beratkah pekerjaan itu. 
  • Pekerjaan rumah tangga apakah mampu dikerjakan sendiri atau harus ada ART?
  • Apakah mampu sambil momong anak sekaligus bekerja ataukah perlu bantuan anggota keluarga lain atau ART? Dalam hal ini perlu pemahaman tentang manajemen diri dan waktu sesuai keadaan yang dihadapi.
  • Apakah ada waktu yang cukup untuk suami? Nah ini, kadang untuk suami yang ritme kerjanya tinggi, mereka lebih suka kondisi rumah yang tenang, istri fokus menemani suami saat di rumah, tidak mengerjakan pekerjaan lain. Jadi perlu komunikasi dan manajemen waktu agar tidak tumpang tindih.
2. Bicarakan dengan keluarga terutama suami.
Minta support dan restu karena pasti akan mengurangi kadar perhatian. Ini penting, karena tanpa ridho suami dan supportnya apalah kita para istri. Jelaskan juga usaha yang akan dijalankan dan berapa penghasilannya juga diskusikan apakah bisa berbagi tugas rumah tangga dengan suami. Anggota keluarga lain bisa jadi back up kita momong anak saat deadline melanda. Karena jika suami dan keluarga paham serta ridho insyaAllah ke depannya tidak ada masalah dan perasaan "tak dianggap berpenghasilan" atau dikomentari "seharian dirumah tapi kok amburadul semua". Bisa nyesek kan padahal kita sudah mati-matian mengerjakan ini itu.

3. Atur rutinitas & prioritas (time management)
Menjadi Working from Home Mom memang menuntut disiplin dan fleksibilitas yang tinggi. Berikut tips agar waktu yang ada menjadi efisien baik untuk pekerjaan atau urusan rumah tangga :
  • Pintar-pintar mencuri waktu 
  • Gunakan waktu-waktu yang dicuri dengan tepat
  • Jangan menunda pekerjaan
4. Guilt management
Ini yang sering tidak diperhatikan. Guilt management ini penting sekali dipahami baik sebagai Working from Home Mom, Working Mom maupun Stay at Home Mom. Pasti ada saja rasa bersalah ke anak atau suami. Mungkin juga rasa kecewa karena yang terjadi tidak sesuai rencana. Nah rasa itu perlu diolah agar tidak berdampak menyalahkan diri sendiri. Tips untuk guilt management : Pikirkan apa yang sudah kita kerjakan. Bukan apa yang belum.

5. Financial management
Sebagai Working from Home Mom yang berpenghasilan, berikut yang perlu diperhatikan terkait keuangan :
  • Rekening bisnis dan rumah tangga WAJIB dipisahkan. 
  • Selalu catat pemasukan dari Working from Home Mom kita dengan tertib. Jadi kita tau dalam setahun kita bisa dapat berapa rata-rata sebulannya.
  • Kalau sudah tau rata-rata dapat berapa, bisa dianggarkan berapa jumlah yang akan kita sisihkan untuk uang belanja rumah tangga, berapa untuk kita jajan, dan berapa untuk ditabung.
  • Punya tujuan finansial seperti dana pensiun anak, tabungan haji, investasi, dst.
Tercerahkan bukan? Sekali lagi lihat kondisi pribadi dan keluarga masing-masing serta apa prioritas utama kita sebagai ibu. Dari kulwap ini rasanya saya jadi menemukan keikhlasan yaitu belum waktunya Honey Handmade kembali ke dunia per-craft-an. Mohon maaf ya untuk para customer tercinta. Semoga suatu saat nanti Allah ijinkan lagi untuk eksis.

Kondisi merantau yang jauh dari keluarga, pekerjaan suami yang ritmenya tinggi, dan anak yang sedang aktif-aktifnya rasanya
cukup menjadi alasan saya untuk belum kembali menjadi Working at Home Mom. Memiliki suami dengan ritme kerja tinggi tentunya tidak mungkin bisa berbagi pekerjaan rumah tangga. Jauh dari keluarga juga membuat saya tidak bisa menitipkan anak untuk sekedar menyelesaikan pekerjaan. Pakai ART? Wah kami tak ada anggaran untuk itu, ada kebutuhan lain yang lebih penting. Saya juga tidak terbiasa dengan ART, background keluarga saya juga selalu do it yourself. Jadi prioritas saya sebagai istri dan ibu adalah keluarga. Sederhana ya tampaknya, tapi saya harus terus belajar karena masih banyak kurangnya. Tidak semudah bayangan.

Selengkapnya tentang resume Kulwap Momystudy 9 bisa dibaca di sini ya. Tentang seluk beluk Working from Home Mom dan karya-karya mbk Puty bisa ke blognya told.byputy.

Oya untuk yang mau menjalani peran sebagai Working from Home Mom, siapkan hati yang lapang karena pasti muncul pertanyaan aneh yang kadang bikin kesal dari orang terdekat yang tak paham, tetangga, teman, atau siapapun itu. Semacam :
"Kamu ngapain aja di rumah seharian? Gak bosen?" - pertanyaan dari teman yang wanita karier -

"Tidur ya, kok di rumah terus?" - pertanyaan dari tetangga yang sok tau -

"Kamu gak daftar CPNS ya? Daripada di rumah terus." - pertanyaan dari saudara yang terlihat sukses dunia akhirat -

Dan lain-lain, kayaknya saya malah jadi curhat jaman dulu setelah resign dari kantor dan full di Honey Handmade. Tak banyak yang paham memang, hanya bapak ibu, beberapa saudara dan sahabat.

Jadi apapun pilihannya, ibu tetaplah ibu. Bukan manusia super tapi selalu ingin yang terbaik untuk keluarganya. Hargailah...
 Sumber : 
https://pinterest.com/pin/583919907908973863/?source_app=android

Rabu, 05 September 2018

Apakah Seorang Ibu Perlu Menulis?

Tulisan ini terinspirasi dari materi pertama kelas menulis online Nulisyuk batch 12 yang diselenggarakan oleh komunitas Nulisyuk . Salah satu pertanyaan yang dilontarkan oleh pemateri adalah "Kenapa seorang ibu sebaiknya menulis?". Beragam jawaban pun muncul dari para peserta.


Sumber gambar : 
http://pinterest.com/pin/417638565426954557/?source_app=android

Menulis merupakan hal yang terkesan berat saat masih di bangku sekolah  karena harus sesuai dengan SPOK, ada minimal jumlah kata, urutan paragraf, pokok pikiran dan sebagainya agar mendapat nilai bagus.

Kini, menulis memiliki beragam makna, definisi, dan tingkatan. Tergantung dari sudut pandang, kebutuhan, tujuan dan kondisi penulis. Mari menilik sebentar arti kata menulis versi KBBI.


Sumber : https://kbbi.web.id/tulis.html

Saat ini media untuk menulis lebih beragam, tidak hanya di kertas tapi di media sosial dan pembacanya pun tak terbatas. Tingkatan menulis yang paling sederhana, paling mudah dan bisa dilakukan kapan saja adalah menulis status di media sosial. Tujuannya antara lain sekedar mengabarkan aktivitas, berbagi kegiatan yang diikuti, atau sekedar mengeluarkan uneg-uneg. Lebih tinggi lagi adalah menulis untuk sharing pengalaman, menulis di blog, sampai menulis buku yang bisa menghasilkan pendapatan. Gagasan dan pendapat pun juga bisa disampaikan lewat tulisan. Ada sesuatu yang dibagi dari menulis hal positif yang bermanfaat bagi pembaca sehingga memunculkan kebahagiaan tersendiri bagi penulis.

Menulis dilihat dari sudut pandang seorang ibu.

Berbicara tentang seorang ibu, ada beberapa kategori yaitu Working Mom, Stay at Home Mom, dan Working From Home Mom. Semua sama perannya sebagai ibu, hanya kondisi dan tantangannya yang berbeda. Semuanya juga sama-sama butuh aktualisasi diri.

Nah, seberapa penting aktualisasi diri bagi seorang ibu? Mari kita lihat makna aktualisasi diri.



Orang yang telah mencapai aktualisasi diri mampu membangun dan menjaga hubungan lebih  baik serta memiliki empati lebih besar. Ketika seorang perempuan merasa bahagia karena mencapai aktualisasi diri, otomatis kebahagiaan itu juga akan menyebar ke orang-orang terdekat. Lebih lengkapnya bisa baca disini.

Pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri bisa beragam caranya tergantung masing-masing pribadi. Menulis bisa menjadi salah satunya. Seorang ibu yang mampu menulis hingga terpenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya akan merasa bahagia dan jiwanya dipenuhi  oleh cinta. Energi itulah yang diperlukan seorang ibu untuk menjalani hari-harinya dengan banyak peran yang diemban. Uniknya, tulisan seorang ibu itu biasanya penuh makna dan bermanfaat bagi ibu-ibu lainnya (tentunya untuk tulisan yang positif ya). Sebagai contoh adalah tentang perkembangan buah hati, tips mendidik anak, menu MPASI, dan banyak pengalaman lain yang mereka bagi di media sosial.

Sebenarnya alasan awal saya mencoba menulis adalah karena saya belum bisa berkarya kembali sebagai crafter. Bagi saya pribadi, menulis adalah cara paling sederhana untuk berkarya, sesederhana apapun tulisan itu. Menulis bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. 


Sumber :  http://pinterest.com/pin/AVanD6qsREBkNPO7dyZlzFPO6sY3CjfzRXjBZ_7to1-g0dFrgLUAXLQ/?source_app=android

Dari menulis saya banyak belajar bahwa menulis adalah sebuah proses pembelajaran tiada henti. Bagaimana mengolah informasi yang diterima dan peristiwa yang  dialami hingga bisa terasa manfaatnya dan layak dibagi. Tak mudah tapi layak dicoba. Menulis juga merupakan salah satu cara untuk menjaga agar pikiran tetap hidup, menambah wawasan dan pengetahuan karena otomatis tertuntut untuk mencari tahu serta membaca apa saja dan darimana saja baik berupa buku, artikel, kejadian, maupun lingkungan. Lebih jauh, menulis bisa menjadi self healing atau terapi penyembuhan diri (bisa baca disini).


Sumber :  http://pinterest.com/pin/403353710352871038/?source_app=android

Ternyata seru ya belajar menulis. Hal yang paling terasa adalah bahagia. Bahagia bisa menyalurkan pikiran, bahagia ketika ada timbal balik dari pembaca, dan bahagia ketika tulisan itu bermanfaat bagi banyak orang.

Mengikuti kelas menulis online banyak sekali manfaatnya. Yaitu bisa bertemu dengan ibu-ibu yang punya semangat berkarya lewat tulisan, bertemu dengan penulis yang sudah berpengalaman dan membuka pintu untuk bertemu dengan banyak karya bermanfaat yang sudah mereka tuliskan. Saya merasa bukan apa-apa, tapi dari situlah saya bisa belajar banyak dan terlecut semangatnya untuk belajar menulis.



Senin, 20 Agustus 2018

#modyarhood : Mainan Anak Tak Perlu Muluk

Akhirnya proyek #modyarhood dari mbk Puty dan mbak Okke nongol lagi. Kali ini temanya tentang seputar mainan anak.

Dream Playroom
Sumber gambar :  http://pinterest.com/pin/595460381955606879/?source_app=android

Layaknya ibu baru beranak satu pada umumnya, bayangan saya tentang mainan anak terlalu sempurna diawal. Sejak hamil sudah searching di Instagram. Dari yang saya lihat, banyak postingan ibu-ibu yang keren saat bermain dengan anaknya, juga keren ragam mainannya. Ada mainan berbasis Montessori, mainan yang melatih sensor motorik kasar halus, busy book, busy board, flash card, dsb. Pokoknya saya terpukau. Sebagai seorang crafter tentu saja saya bersemangat untuk membuat mainan sendiri, karena lebih murah dibandingkan beli, bahan-bahan juga sudah tersedia di rumah dan yang terpenting adalah tidak menyesal terlalu dalam kalau anak terlihat tidak tertarik.

Berikut mainan Mufa yang saya buat sendiri : 
1. Soft toys (boneka dari kain)
Saya membuatnya saat masih hamil. Ada boneka bentuk gajah, ayam, bunga. Untuk boneka kucing, ikan dan kura-kura saya buat saat Mufa sudah lahir. Alhamdulillah respon Mufa dengan mainan ini lumayan bermanfaat, bisa dipegang-pegang dan dipandang-pandang. Seneng rasanya, walau tak lama tapi paling tidak bisa dipakai.

Boneka kain
Sumber gambar : foto pribadi

2. Soft cube/kubus dan bola sensory
Seperti boneka kain, bedanya di bentuk dan tekstur kainnya. Kubus dan bola sensory ini saya buat dengan tekstur kain berbeda-beda dengan hiasan yang berbeda juga dan di dalamnya saya beri lonceng sehingga bisa berbunyi gemerincing. Selain itu di sudutnya ada tali dari pita dan elastic yang bisa ditarik-tarik. Alhamdulillah direspon baik oleh Mufa walau sebentar.

Soft cube
Sumber gambar : foto pribadi

Bola sensory
Sumber gambar : foto pribadi

3. Busy book
Dengan semangat 45 saya juga membuat busy book setelah ngobrol dengan seorang teman. Kurang lebih berisi tentang hujan, memetik buah dan memasukkan ke keranjang, mencocokkan warna bunga, menalikan sepatu, dan mencocokkan bentuk. Kalau ini yang memainkan malah sepupunya Mufa yang saat itu berusia 2 tahunan. Hmm...emak terlalu bersemangat. Baru saat usia Mufa setahun, dia tertarik memainkannya.

Busy book
Sumber gambar : foto pribadi

4. Flash card
Flash card ini semacam kartu yang terbuat dari kertas dengan berbagai macam tema. Saya terinspirasi dari Pinterest. Ada flash card tentang abjad, angka, warna, ekspresi, cuaca, bilangan, sayuran, hewan. Sampai sekarang Mufa  belum tertarik. Lagi-lagi sabar buk...

Flash card
Sumber gambar : foto pribadi

5. Akuarium kardus
Terinspirasi dengan tutorial dari mbak Puwi Idekuhandmade dan kardus yang teronggok di sudut ruang. Respon awal cuma dilihat dan dilewati saja. Rasanya pengen bilang, Nak penuh perjuangan lho ibu bikinnya, ngecat pakai akrilik pula. Selanjutnya sengaja saya taruh dilantai dan beberapa hari kemudian akhirnya disentuh juga oleh Mufa. Ditarik-tarik sampai ikannya lepas dan sekarang akuarium kardusnya sudah dibuang, tersisa ikan-ikan dan rumput lautnya saja.

Akuarium kardus
Sumber gambar : foto pribadi

Selain membuat mainan sendiri, ada juga beberapa mainan yang saya beli seperti bola warna warni untuk melatih motorik dan mengenal warna. Sempat tertarik dengan water beads, pasir kinetik, dan play dough, tapi nanti sajalah, Mufa masih sering memasukkan apa saja ke mulut.

Kini diusianya yang 13 bulan, Mufa lebih suka bermain apa yang ada di rumah dan belajar jalan. Seperti saat saya memasak di dapur, dia selalu minta diambilkan panci, gelas plastik, sendok, toples plastik, dll. Lalu mengikuti kebiasaan ibunya di dapur. Semacam main masak-masakan, bikin teh, masak sayur, diaduk-aduk pakai sendok lalu menyuapi ibunya. Bikin saya senyum-senyum sendiri kalau begini. Tapi jadilah dapur berantakan, semua isi laci dapur keluar semua, panci-panci juga turun ke lantai. Tak apalah, semoga besok pintar masak ya nak. Akhirnya sayapun membelikan Mufa mainan masak-masakan, berharap tidak minta diambilkan barang yang berbahaya di dapur. Tapi pada kenyataannya, dia lebih tertarik panci yang asli. Hahaha...

Selain itu, Mufa juga suka buka tutup gelas atau botol kosong dan memasukkan benda ke kotak kecil bekas telon. Imajinasi saya dia bisa main Lego kelak. Entah ketinggian atau tidak, ada rencana untuk membelikannya Lego suatu saat. Kalau ini dilatarbelakangi Om nya Mufa yang dulu saat TK sudah lihai main Lego, bisa ngikutin tutorial bentuknya dan bisa membuat bentuk sesuai imajinasinya. Ini sering membuat saya terpukau. Sekarang saat dia SD sudah bisa bikin sketsa rumah 3 dimensi di aplikasi (lupa saya namanya). Dalam bayangan saya anak yang seperti ini cerdas. Eh...tapi Mufa belum tentu berpotensi sama sih. Nah... ini contoh pemikiran ibu yang terlalu muluk.

Kalau Mufa main di luar dapur, lain lagi ceritanya. Pada intinya si anak lebih tertarik mengeksplore yang asli karena biasa dikerjakan oleh orang tuanya sehari-hari. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi orang tua untuk memberikan contoh yang baik. Selain itu yang paling penting adalah diawasi, jangan sampai menyentuh yang berbahaya. Tapi mainan juga perlu terutama yang sifatnya edukatif, yang melatih daya imajinasinya dan punya nilai pembelajaran. Dari mainan dan bermain, orang tua bisa melihat bakat si anak dan selanjutnya bisa mengarahkannya.

Perjalanan Mufa dengan mainan masih panjang, namun ada beberapa hal yang menjadi catatan saya tentang pola bermain anak, yaitu :
1. Cepat bosan dengan mainan, bukan berarti dia tidak tertarik, tapi mungkin ada hal yang lebih menarik dan suatu saat mainan itu akan dia mainkannya.

2. Jangan berharap banyak tentang mainan, tak ada salahnya membelikan mainan atau membuat sendiri, tapi harus siap kalau ternyata dia tidak langsung memainkannya.

3.  Ikut saja keinginannya bermain apa asal positif dan tidak berbahaya.

4. Temani dengan aktif, awasi saat bermain dan masukkan pembelajaran saat bermain.

5. Pintar-pintar memilih mainan yang sesuai dengan usia anak dan ada value nya.

6. Siapkan fisik dan mental untuk membereskan rumah setiap hari. Agar terasa ringan, tanamkan dipikiran bahwa sekarang anak bisa membuat rumah berantakan, suatu saat pasti dia bisa merapikan.

Sekian cerita saya seputar mainan anak. Tak perlu muluk-muluk membayangkan indahnya bermain dengan anak, karena kenyataan tak selalu begitu. Tiap anak punya potensinya masing-masing. Yang penting adalah jadilah teman mainnya sepenuh hati yang tak pernah bosan bersamanya. Nah ini catatan untuk saya pribadi juga yang sampai sekarang masih berusaha untuk bisa sepenuh hati, mengurangi ngomel yang tak perlu, dan berusaha menjelaskan di balik kata "jangan".

Selamat bermain dengan anak tercinta, ibu-ibu.

Minggu, 05 Agustus 2018

Tantangan di Awal Menyusui

Sumber gambar : Instagram @shelley_illustration

Sebagai ibu yang masih menyusui, saya baru tahu kalau tanggal 1-7 Agustus 2018 ini diperingati sebagai World Breastfeeding Week dengan slogan Life Foundation. Mumpung masih berada di tanggal tersebut saya ingin berbagi sedikit pengalaman di awal menyusui Mufa.


Alhamdulillah setelah Mufa lahir ASI saya melimpah ruah sampai "ngrangkaki" kalau orang Jawa bilang. Tetapi hal tersebut tidak langsung diimbangi dengan kelancaran dalam menyusui secara langsung. Saya duga karena faktor bentuk puting.

Masih teringat hari-hari pertamanya di dunia, Mufa tidak langsung lancar menyusu. Bahkan untuk kolostrum saya berikan dengan sendok, begitu pula dengan ASI. Sayapun bingung kenapa, namun hal itu tak lantas membuat saya menyerah, saya coba terus untuk direct breastfeeding. Tapi tampaknya dia kurang puas. Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk pumping, menyetok ASI, dan yang paling berat bagi saya adalah memberikannya melalui dot. Kadang saya merasa sedih, saya merasa kalah dengan dot.

Hari-haripun saya lalui dengan seluk beluk dunia per-pumping-an yang kadang terasa melelahkan, seraya berdoa dan terus mencoba agar Mufa bisa direct breastfeeding. Terbayang beratnya kalau harus pumping selama 2 tahun. Saat itu, tantangan dari luar begitu terasa. Masih dalam kondisi hiruk-pikuk orang-orang yang turut berbahagia atas kelahiran Mufa, ditambah komentar-komentar dari yang sekedar penasaran sampai cibiran akan adanya dot di kamar Mufa. Mungkin sudah umum ya  kalau dot itu isinya susu formula. Yah..sudahlah anggap saja itu angin lalu, yang penting saya punya komitmen untuk meng-ASI-hi Mufa sampai 2 tahun insyaAllah. Belum lagi ada yang komentar kalau bentuk putingnya saja begitu gimana anak bisa menyusu... subhanallah... rasanya pengen bilang ke Allah kalau ada hamba-Mu yang meremehkan ciptaan-Mu Ya Rabb. Sedih.

Namun Allah Maha Segalanya, alhamdulillah di usianya yang ke 2 bulan, Mufa sudah bisa menyusu secara langsung dan tidak mengalami bingung puting. Bahagia tak terkira. Anggapan bentuk puting dapat menghambat proses menyusu terbantahkan sudah dengan kenyataan. Dan saya pun baru faham ilmunya setelah membaca artikel mbak Nabila yang berjudul Bentuk Payudara, Puting dan Keberhasilan MenyusuiDi sana dijelaskan secara gamblang bahwa bukan bentuk puting maupun payudara yang mempengaruhi keberhasilan menyusui tapi pelekatan salah satunya.

Sayapun jadi flashback dan teringat, memang benar tentang pelekatan dan hal itu butuh waktu. Seorang ibu baru membutuhkan waktu berdua dengan bayinya agar bisa beradaptasi, namun kadang hal ini terganggu dengan banyaknya tamu yang datang menjenguk atau hal-hal lainnya. Benarlah jika harus ada etika saat menjenguk bayi baru lahir. Ini menjadi catatan untuk saya pribadi. Selain itu juga karena saya kurang ilmu tentang menyusui saat itu.

Dari apa yang saya alami, saya rasa ada dua tantangan di awal menyusui :
1. Faktor internal
Kesiapan mental dan fisik ibu. Kesiapan mental disini lebih ditekankan pada rasa percaya diri bahwa si ibu harus punya keyakinan bisa menyusui anaknya dan ASInya cukup. Kesiapan fisik antara lain kondisi payudara ibu yang bisa dirawat sebelum melahirkan.

2. Faktor eksternal
Ini sangat mempengaruhi terutama orang-orang di sekitar si ibu dan bayi. Tentu mereka punya pendapat masing-masing, jadi si ibu harus punya komitmen dan keyakinan kuat untuk meng-ASI-hi bayinya dan harus bisa menyaring setiap pendapat orang yang didengar.

Lalu bagaimana agar bisa menghadapi tantangan tersebut?
1. Cari ilmu sebanyak-banyaknya tentang ASI dan menyusui jauh-jauh hari, kalau perlu tanya ke ahlinya

2. Harus yakin bahwa ASI nya cukup dan bisa meng-ASI-hi

3. Komunikasikan ke orang-orang terdekat tentang komitmen untuk meng-ASI-hi dan minta dukungan mereka

4. Merawat payudara sebelum melahirkan, ini bisa ditanyakan ke ahlinya atau sebagai gambaran bisa dibaca di sini

5. Abaikan omongan orang yang tidak perlu

6. Utamakan waktu berdua dengan bayi sesering mungkin dalam artian kalau ada tamu berkunjung ya ditemui sewajarnya

7. Jangan pernah menyerah untuk bisa menyusui dan meng-ASI-hi

Sumber gambar : Pinterest

ASI adalah anugerah dari Allah yang sangat istimewa, tak hanya aliran nutrisi terbaik tapi juga aliran cinta dan kasih sayang seorang ibu ke anak, yang kelak menjadi pondasi kehidupan (Life Foundation) bagi si anak. Jadi sebagai rasa syukur seharusnya para ibu bisa memberikan ASI kepada anak-anak mereka. Bahkan hal itu di sebutkan oleh Allah dalam Al-Quran.

Allah SWT berfirman:
وَالْوَالِدٰتُ يُرْضِعْنَ اَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ اَرَادَ اَنْ يُّتِمَّ الرَّضَاعَةَ   ۗ  وَعَلَى الْمَوْلُوْدِ لَهٗ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۗ  لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ اِلَّا وُسْعَهَا  ۚ  لَا تُضَآرَّ وَالِدَةٌ  ۢ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُوْدٌ لَّهٗ بِوَلَدِهٖ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذٰ لِكَ  ۚ  فَاِنْ اَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا  ۗ  وَاِنْ اَرَدْتُّمْ اَنْ تَسْتَرْضِعُوْٓا اَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِذَا سَلَّمْتُمْ مَّآ اٰتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوْفِ ۗ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

"Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 233)

Nah...tak ada alasan untuk tidak menyusui kan?
Happy World Breastfeeding Week
Semangat menyusui ibu-ibu...

Sabtu, 28 Juli 2018

Naik Kereta Api Bersama si Kecil

Semenjak Mufa lahir, saya mulai mencari info tentang tips maupun pengalaman naik kereta api bersama bayi. Alasannya karena saya dan suami selalu menggunakan kereta api untuk perjalanan dari Jakarta ke Jogja maupun sebaliknya.

Kali ini saya coba menuliskan disini tentang sedikit pengalaman saya naik kereta api bersama Mufa. Kenapa sedikit? Karena baru tiga kali Mufa naik kereta api hehehe...semoga cukup sebagai wacana ya.

Sumber gambar:  Instagram @keretaapikita

Kereta api sudah menjelma menjadi moda transportasi yang nyaman dan aman saat ini. Sistem ticketing, boarding pass, suasana di dalam stasiun yang semakin nyaman dan aman, fasilitas yang semakin lengkap, juga gerbong kereta yang bersih dan ber AC menjadi daya tarik tersendiri.

Mufa pertama kali naik kereta api saat usia 7 bulan sekalian "boyongan" dari Jogja ke Bekasi setelah dia lahir. Saat itu tidak hanya kami bertiga tapi simbah Kakung dan simbah Putri nya Mufa juga ikut serta mengantar. Kami memilih perjalanan siang hari menggunakan kereta api kelas bisnis. Jarak rumah Jogja ke stasiun Tugu hanya 15 menit, jadi tak perlu menunggu lama sampai kereta api berangkat. Alhamdulillah tidak ada kendala yang berarti selama kurang lebih 8 jam perjalanan di kereta. Mufa masih bisa bobok dengan cara dipangku bergantian. Untuk MPASI nya saya siapkan menu buatan sendiri seperti biasa dari rumah, perkiraan saya bisalah untuk makan pagi dan siang. Selain itu saya bawa pisang dan biskuit. Saya tidak bawa bubur instan. Perjalanan naik kereta api bersama Mufa di usianya yang ke 7 bulan bisa dibilang lancar, aman dan nyaman. Hal ini juga dikarenakan banyak temannya, jadi bisa gantian momong...hehehe.

Perjalanan kereta api Mufa yang kedua adalah saat mudik lebaran kemarin yaitu saat usianya 11 bulan. Kali ini kami hanya bertiga, saya, Mufa dan ayahnya. Rencananya kami ingin naik kereta api kelas eksekutif, tapi sudah tidak kebagian, alhamdulillah nya kami masih memperoleh tiket mudik walaupun kelas ekonomi. Perjalanan dari Bekasi ke Jakarta lancar, namun kami terlalu lama menunggu di stasiun Pasar Senen yang mana saat itu ramai sekali karena arus mudik. Mufa terlihat tidak nyaman dengan kondisi tersebut. Selama di dalam kereta api Mufa sangat aktif, dia sudah bisa menikmati suasana dan berceloteh ria. Tetapi bisa dibilang dia tidak bisa tidur, begitu pula kami orang tuanya. Menidurkannya dengan cara dipangku sangat tidak nyaman karena sempit, sedangkan menidurkan nya di kursi juga tidak mungkin. Untuk MPASI nya saya sudah siapkan dari rumah, juga membawa berbagai macam cemilan. Perjalanan dengan kereta api kali ini terasa sekali capeknya.  Untungnya siang hari, jadi malamnya kami bisa istirahat.

Perjalanan kereta api Mufa yang ketiga adalah saat kembali ke Bekasi di usianya yang ke 12 bulan. Kali ini bersama simbah Kakung dan simbah Putrinya karena ayahnya sudah lebih dulu ke Bekasi. Kami naik kereta api kelas eksekutif dengan perjalanan siang hari. Alhamdulillah, kali ini terbilang nyaman. Walau Mufa sangat aktif, dia bisa bobok dengan nyenyak dan lama. Kami bisa menidurkannya di kursi. Seperti sebelumnya, saya sudah siapkan bekal MPASI nya. Yang membuat saya harus berjaga-jaga adalah perjalanan dari stasiun Gambir ke Bekasi, tapi alhamdulillah diberi kelancaran.

Dari tiga kali naik kereta api bersama Mufa, ada beberapa hal yang menjadi catatan saya dan perlu diperhatikan,  antara lain :

1. Syarat dan ketentuan naik kereta api
Alangkah baiknya jika di baca sebelum melakukan perjalanan dengan kereta api, karena saat ini PT.KAI selalu mengupgrade diri. Terkait dengan ketentuan tempat duduk, barang bawaan, bagasi, dst termasuk apakah boleh membawa stroller..bisa dibaca di sini. Atau bisa ditanyakan ke customer service nya. Kalau saya biasa tanya lewat Twitter.

2. Usia si kecil
Ini terkait dengan tempat duduk karena untuk bayi (usia kurang dari 3 tahun) tidak mendapatkan tempat duduk sendiri, jadi poin nomor 3 harus disiapkan. Tapi jika ingin menambah tempat duduk juga bisa dengan tarif dewasa, begitu info yang saya dapat dari instagram @keretaapikita.

Sumber gambar : Instagram @keretaapikita

3. Kondisi fisik si kecil dan orang tua
Hal ini paling utama terutama untuk si kecil yang sudah aktif, perlu dipersiapkan kondisi fisik yang prima. Selain itu jika si kecil belum mendapat tempat duduk, orang tua harus siap memangkunya.

4. Jarak dan lama perjalanan
Bayi biasanya rentan bosan dan capek, jadi perlu diperhitungkan tentang lama perjalanan dari rumah ke stasiun dan sebaliknya juga berapa lama perjalanan dengan kereta api sampai kota tujuan,  sehingga bisa disiapkan apa saja yang bisa mengurangi kebosanan si kecil.

5. Pemilihan kelas kereta api, waktu perjalanan dan pemilihan tempat duduk
Poin ini erat kaitannya dengan kenyamanan. Beli tiket jauh-jauh hari sangat disarankan dan kalau ada rezeki alangkah baiknya memilih kelas eksekutif yang luas tempat duduknya. Pilih tempat duduk yang berdekatan dan jauh dari toilet. Nah untuk waktu perjalanan, kalau hanya sekedar liburan bisa pilih tanggal yang tepat, namun jika lebaran...mau tidak mau harus berjubel dengan banyak orang sehingga perlu kesiapan ekstra.

6. Perlengkapan bayi yang harus dibawa
Ini sangat penting, siapkan satu diaper bag diluar (mudah ditenteng dan dibuka setiap saat) yang berisi pakaian ganti bayi (1-2 pasang), popok sekali pakai, tisu basah, tisu kering, menu MPASI, air minum, camilan, makanan berat, mainan, jaket, peralatan makan, minyak telon dll (sesuaikankan dengan kebutuhan si kecil).

7. Sedikitkan barang bawaan
Kalau barang bawaan memang banyak sebaiknya sebagian besar dikirim lebih dulu ke tempat tujuan, bawa yang sekiranya penting. Kecuali jika banyak yang menemani saat naik kereta sehingga ada yang membantu atau bisa menggunakan jasa porter.

8. Baby carrier
Ini paling nyaman dan aman untuk menggendong bayi apalagi di tempat umum seperti stasiun terutama jika suasananya berjubel seperti saat mudik lebaran.

Khusus untuk MPASI, awalnya saya bingung harus bawa apa dan bagaimana...hehehe maklum emak baru beranak satu. Tapi ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan dan tidak perlu juga membawa bubur instan. Cukup buatkan menu MPASI rumahan seperti biasa untuk dua atau tiga kali makan, amannya sih untuk dua kali makan, selain itu bawakan camilan berat (pisang, biskuit) dan camilan ringan (sejenis puff atau yummy bites).

Kesimpulan saya...untuk perjalanan jauh dengan kereta api perlu fisik yang prima...karena tantangannya adalah bagaimana bisa survive selama di kereta bersama si kecil...hehehe. Lebay ya? Eh tapi ini beneran.

Akhir kata selamat berpetualang naik kereta api bersama si kecil.

Sumber gambar : koleksi pribadi




Minggu, 22 April 2018

#modyarhood : Nak..., Kamu Selalu dan Pasti Ngangenin

Hai..ikut #modyarhood nya mbk byputy dan mbk mamamolilo lagi. Tema bulan April ini tentang momen ibu dan anak yang bikin kangen.


Dibandingkan dengan ibu-ibu yang anaknya lebih dari satu atau anaknya sudah beranjak besar, saya belum apa-apa. Saya masih newbie, anak baru satu yang sebentar lagi berumur 10 bulan. Itupun rasanya sudah ngangenin hihi...

Bisa mengikuti perkembangan Mufa setiap hari itu bersyukur sekali rasanya. Kalau ditarik ke belakang, banyak sekali momen yang ngangenin bersama Mufa, diantaranya :

1. Momen saat IMD
Untuk pertama kali memeluknya...melihat wajahnya...tatapan matanya...senyum di bibirnya.. ekspresinya. MasyaAllah, betapa besar kuasa Allah. Perasaan bahagia yang sesungguhnya, cinta yang sudah dirasa sebelum bertemu ternyata begini sosoknya.

2. Momen saat pertama kali Mufa bisa direct breastfeeding (menyusui langsung). 
Yap, Mufa baru bisa direct breastfeeding saat usianya 2 bulan, kenapa? Alhamdulillah ASI saya langsung keluar dan melimpah, hanya saja si anak butuh beradaptasi dengan bentuk puting saya. Saat itu..dramanya banyak, dari komentar yang membangun sampai yang sekedar memandang sebelah mata, trus kekhawatiran dari saya sendiri yang membayangkan apakah sampai 2 tahun saya harus mompa.. berat rasanya, juga ada perasaan botol susu lebih laku daripada ibunya (sedih dan merasa gak berarti banget). 
Disyukuri saja, Alhamdulillah pernah merasakan bagian dari tim pumping di dua bulan pertama kehidupannya, dan Alhamdulillah dari lahir sampai sekarang Mufa masih full ASI. Bahagia dan berharga rasanya saat pertama kali Mufa bisa direct breastfeeding.

3. Momen saat masih pakai popok kain.
Kangen serunya hehe...habis ganti popok eh si anak tiba-tiba pipis, eh tiba-tiba pup. Trus kejar-kejaran sama matahari nyucinya. Saya mulai full memakaikan pospak saat Mufa sudah mulai aktif, kira-kira usia 4 bulan.

4. Momen saat masih anteng digendong.
Sekarang Mufa sudah bisa bergerak kemana-mana dan sudah punya keinginan, kalau digendong ya...gak semudah dulu hihi... Jadi kangen saat Mufa masih anteng digendong, puas menatapnya, puas memeluknya. Sebenarnya yang paling kangen tentang ini sih ayahnya, kalau sama ibunya, si anak masih nemplok terus.

Hmm apalagi ya..? Kalau masalah tidur Alhamdulillah masih sama dan masih terbilang gampang, yang beda adalah posisinya, kalau dulu anteng, sekarang sudah berputar kemana-mana.

Intinya.... Alhamdulillah saya masih bisa menemani si anak, kebayang kan kalau dia sudah beranjak besar nanti, saat dia sudah mandiri, saat dia sudah tidak sepenuhnya bergantung pada kita lagi....pasti kangen banget masa-masa sekarang. Masa dimana dia mudah tertawa dengan hal sederhana, masa dimana dia suka nguyel-uyel, masa dimana harus berjibaku dengannya saat mau mandi, masa dimana dia susah banget dipakein pospak, dsb. Jadi nikmatilah waktu selagi masih bisa bersama anak-anak, menemaninya, mengawal pertumbuhannya, mendidiknya dengan sepenuh cinta.

Gambar diambil dari Instagram @momisdrawing , silahkan ditengok...momen ibu dan anak banget ilustrasinya.





Rutin Mencatat Pengeluaran yuk

Dalam pengelolaan keuangan ada hal paling sederhan tapi kadang tidak dilakukan karena tidak sempat atau terlalu ribet atau malas yaitu menc...