Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Oktober 2018

#ILoveMyImperfections, Saat Pilihan Menjadi Working Mom Tiba

Bagi saya, pilihan menjadi Working Mom tiba saat lowongan CPNS terbuka lebar. Bagaimana tidak, restu suami, restu orang tua dan restu mertua terkantongi selama itu penempatan di Jogja. Yang artinya juga saat itulah ada kesempatan keluarga kecil kami untuk kembali ke Jogja, dekat dengan orang tua, dekat dengan sanak saudara. Sebagai wujud bakti kami kepada kedua orang tua juga pastinya dan banyak nilai positif lainnya juga untuk si kecil kami terutama bisa mengenal siapa saja saudaranya, mengenalkan makna silaturahim. Mungkin juga jika lolos sebagai CPNS, beberapa mimpi saya akan terwujud, tentu atas kehendak Nya.

Namun, saat itu pula ada kekhawatiran yang saya rasakan jika kelak saya benar-benar diterima yaitu bagaimana dengan pengasuhan anak-anak sehari-hari. Dilema ini selalu menyeruak semenjak saya menjadi seorang ibu. Saya merasa akan kehilangan banyak waktu bersama si kecil, akan banyak milestonenya yang saya lewatkan. Ya karena menjadi seorang PNS berarti waktu kerjanya pasti dari jam sekian sampai jam sekian, tidak fleksibel. Saya tidak akan bisa berada disisi si kecil di waktu aktifnya.

Sumber gambar : https://pinterest.com/pin/507147608036051251/?source_app=android

Belum lagi memikirkan sehari-hari si kecil dengan siapa, rasanya galau-galau sedap. Pengasuhan tidak hanya menjaga si anak saat orang tuanya pergi. Tapi mengasuh itu juga mendidik, menanamkan nilai dan menanamkan karakter. Pengasuhan itu semacam tiang utama bagaimana orang tua ingin membentuk anaknya seperti apa. Mungkin mempercayakan si kecil kepada kakek dan neneknya bisa menjadi pilihan terbaik. Tapi bukankah itu memperberat masa tuanya. Sedih juga rasanya saya, sudah berumahtangga tapi masih juga merepotkan orang tua. Kapan saya bisa berbakti. Mencari pengasuh juga ngeri-ngeri sedap, apalagi jaman sekarang. Saya juga merasa tidak rela anak saya diasuh oleh orang lain yang saya tak paham kepribadian dan pendidikannya. Pilihan lain mungkin daycare. Well itu tadi cuma bayangan kekhawatiran seorang ibu biasa seperti saya.

#ILoveMyImperfections
Nah di saat kesempatan menjadi Working Mom ini terbuka lebar biasanya muncul rasa bersalah dalam diri saya. Bersalah pada suami dan anak. Merasa tak sempurna karena saya tak bekerja. Tapi ketika membayangkan saya diterima bekerja, saya akan sangat merasa bersalah kepada anak.

Mungkin jika diterima, hal pertama yang akan saya lakukan adalah meminta maaf kepada si kecil karena tidak bisa menemaninya seperti dulu. Hal kedua adalah meminta maaf kepada suami karena pasti akan banyak pekerjaan rumah tangga yang menjadi kewajiban saya terbengkalai. Hal ketiga adalah meminta maaf kepada orang tua jika saya menitipkan si kecil kepada mereka. Mellow amat..tapi ini baru kemungkinan kok.

Saat dihadapkan dengan kesempatan menjadi Working Mom saya bisa pusing tujuh keliling. Inilah hal terberat semenjak menjadi ibu, emosi, pikiran dan jiwa rasanya teraduk-aduk. Bukan lagi tentang repotnya memasak, bikin menu MPASI, meng-ASI-hi, harus dirumah menemani anak dan sebagainya, semua ini bisa saya pelajari dan saya yakin bisa. Bukannya saya tidak mau bekerja, toh sebelumnya saya juga pekerja dan tahu suka dukanya menjemput rezeki. Saya hanya memikirkan anak dan tanggungjawab saya tentang anak serta rumah tangga, itu saja.

Sumber gambar :  https://pinterest.com/pin/507147608036051161/?source_app=android

Pada akhirnya saya tidak boleh berlama-lama larut dalam perasaan bersalah dan kekhawatiran ini. Saya harus menerimanya sebagai bentuk mencintai diri sendiri. Menjadi ibu memang tidak akan bisa sempurna, entah Working Mom, Stay at Home Mom, maupun Working at Home Mom. Semua punya perjuangannya masing-masing. Semua punya pengorbanannya masing-masing. Dan saya harus mencintai ketidaksempurnaan saya, #ILoveMyImperfections.

Meluangkan #5MenitAja
Meluangkan sedikit waktu untuk sekedar berdiam diri, menghela nafas, menyerahkan segala ketentuan pada Allah merupakan cara saya untuk menawar rasa bersalah yang muncul karena merasa tidak sempurna menjadi seorang ibu.

Meluangkan #5MenitAja untuk mengingat nikmat Allah yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk membersamai tumbuh kembang si kecil selama ini bisa membuat saya bersyukur dan bersemangat kembali.

Meluangkan waktu untuk membaca cuplikan komik persatuan ibu-ibu di Instagram sudah bisa membuat saya tersenyum lega karena merasa tak sendiri. Membaca artikel seperti tabloid Nova terutama bahasan yang ringan tapi membangun juga bisa menjadi pilihan untuk menepis perasaan negatif yang muncul.

Selanjutnya saya tetap akan ikut tes CPNS seperti sebelum-sebelumnya sebagai wujud ikhtiar saya agar kami sekeluarga bisa pindah ke Jogja. Juga sebagai wujud ikhtiar menjemput rezeki jika kelak kami pindah ke Jogja. Bagi keluarga yang sudah merantau seperti keluarga kami, pilihan untuk kembali ke kampung halaman memang tak mudah. Banyak hal harus dipikirkan dan direncanakan. Bagaimana agar asap dapur tetap mengepul juga tentang masa depan.

Tentang kekhawatiran yang saya rasakan, saya yakin jika Allah sudah berkehendak pasti sepaket dengan solusi dan Allah pasti memampukan. Banyak kok Working Mom diluar sana yang bisa tetap menjalankannya peran sebagai istri dan ibu dengan baik. Allah punya banyak jalan, Allah punya banyak pintu. Allah juga pasti akan menghadirkan banyak hikmah dan kebaikan-kebaikan lain yang lebih indah. Seperti salah seorang teman saya ini, dia luar biasa. Bisa jadi penambah semangat kan.


Sumber gambar : Instagramnya Anggi
Maaf ya Nggik, ijin pake gambarmu disini, inspiring banget, proud of you 👍👍

Sekali lagi saya selalu yakin bahwa Allah adalah sebaik-baik pembuat skenario kehidupan dengan kejutan-kejutan tak terduga. Jika Allah sudah menghendaki, maka itulah yang terbaik. Hanya kepada Nya lah tempat bergantung dan kembali. Sebagai manusia tugas kami adalah berikhtiar dan berdoa. Selanjutnya adalah bersyukur dan bersabar. Allah yang menentukan.


Minggu, 22 April 2018

#modyarhood : Nak..., Kamu Selalu dan Pasti Ngangenin

Hai..ikut #modyarhood nya mbk byputy dan mbk mamamolilo lagi. Tema bulan April ini tentang momen ibu dan anak yang bikin kangen.


Dibandingkan dengan ibu-ibu yang anaknya lebih dari satu atau anaknya sudah beranjak besar, saya belum apa-apa. Saya masih newbie, anak baru satu yang sebentar lagi berumur 10 bulan. Itupun rasanya sudah ngangenin hihi...

Bisa mengikuti perkembangan Mufa setiap hari itu bersyukur sekali rasanya. Kalau ditarik ke belakang, banyak sekali momen yang ngangenin bersama Mufa, diantaranya :

1. Momen saat IMD
Untuk pertama kali memeluknya...melihat wajahnya...tatapan matanya...senyum di bibirnya.. ekspresinya. MasyaAllah, betapa besar kuasa Allah. Perasaan bahagia yang sesungguhnya, cinta yang sudah dirasa sebelum bertemu ternyata begini sosoknya.

2. Momen saat pertama kali Mufa bisa direct breastfeeding (menyusui langsung). 
Yap, Mufa baru bisa direct breastfeeding saat usianya 2 bulan, kenapa? Alhamdulillah ASI saya langsung keluar dan melimpah, hanya saja si anak butuh beradaptasi dengan bentuk puting saya. Saat itu..dramanya banyak, dari komentar yang membangun sampai yang sekedar memandang sebelah mata, trus kekhawatiran dari saya sendiri yang membayangkan apakah sampai 2 tahun saya harus mompa.. berat rasanya, juga ada perasaan botol susu lebih laku daripada ibunya (sedih dan merasa gak berarti banget). 
Disyukuri saja, Alhamdulillah pernah merasakan bagian dari tim pumping di dua bulan pertama kehidupannya, dan Alhamdulillah dari lahir sampai sekarang Mufa masih full ASI. Bahagia dan berharga rasanya saat pertama kali Mufa bisa direct breastfeeding.

3. Momen saat masih pakai popok kain.
Kangen serunya hehe...habis ganti popok eh si anak tiba-tiba pipis, eh tiba-tiba pup. Trus kejar-kejaran sama matahari nyucinya. Saya mulai full memakaikan pospak saat Mufa sudah mulai aktif, kira-kira usia 4 bulan.

4. Momen saat masih anteng digendong.
Sekarang Mufa sudah bisa bergerak kemana-mana dan sudah punya keinginan, kalau digendong ya...gak semudah dulu hihi... Jadi kangen saat Mufa masih anteng digendong, puas menatapnya, puas memeluknya. Sebenarnya yang paling kangen tentang ini sih ayahnya, kalau sama ibunya, si anak masih nemplok terus.

Hmm apalagi ya..? Kalau masalah tidur Alhamdulillah masih sama dan masih terbilang gampang, yang beda adalah posisinya, kalau dulu anteng, sekarang sudah berputar kemana-mana.

Intinya.... Alhamdulillah saya masih bisa menemani si anak, kebayang kan kalau dia sudah beranjak besar nanti, saat dia sudah mandiri, saat dia sudah tidak sepenuhnya bergantung pada kita lagi....pasti kangen banget masa-masa sekarang. Masa dimana dia mudah tertawa dengan hal sederhana, masa dimana dia suka nguyel-uyel, masa dimana harus berjibaku dengannya saat mau mandi, masa dimana dia susah banget dipakein pospak, dsb. Jadi nikmatilah waktu selagi masih bisa bersama anak-anak, menemaninya, mengawal pertumbuhannya, mendidiknya dengan sepenuh cinta.

Gambar diambil dari Instagram @momisdrawing , silahkan ditengok...momen ibu dan anak banget ilustrasinya.





Senin, 19 Maret 2018

#modyarhood : Yang Sepele Ternyata Istimewa

Bismillah, mari menghidupkan blog lagi...hehe

Awal cerita, kemarin baca postingan Instagram mbak byputy dan temanya menarik banget. Hashtag nya #modyarhood kerjasama dengan mbak mamamolilo, seru ya...dan aku baru tahu ternyata bulan ini adalah kali ketiga nya. Untuk lebih jelasnya langsung ke Instagram atau blognya mbak byputy atau mbak mamamolilo.


Membahas tentang kehidupan seputar ibu-ibu termasuk saya di dalamnya, rasanya gak ada habisnya. Banyak sih, terutama untuk "full time mother" seperti saya, yang kadang udah semangat semangat nya, ikhlas ikhlasnya ngejalanin eh...ada aja yg bikin kendor bin pudar. Nah, entah kenapa postingan mbak byputy ini selalu mengencangkan semangat saya, bikin saya mengangguk angguk dan bersorak iya sama..aku juga gitu.

Tema #modyarhood bulan ini adalah tentang pembagian tugas rumah tangga antara suami istri.
Sumber gambar : foto pribadi


Saya dan suami termasuk yang tanpa ART dan kami full menjalankan peran kami masing-masing. Saya sebagai istri dan ibu yang full mengerjakan urusan rumah tangga seperti cuci piring, cuci baju, masak, nyapu, ngepel, ngurus anak dan sebagainya. Sementara suami full mencari nafkah, tapi tetep punya peran ayah dan ngurus urusan rumah yang sifat nya laki. 
Kenapa begitu? Seakan sudah otomatis, tapi butuh proses penyesuaian juga hingga kami bisa "nrimo" satu sama lain karena kami juga punya latar belakang keluarga yang berbeda.

Suami saya ritme kerja nya bisa dibilang "gila" banget, berangkat subuh, pulang paling cepet Maghrib, jadi gak mungkin banget saya mengharapkan dia membantu mengerjakan urusan rumah tangga walau sekedar nyuci piringnya sendiri, kebayang kan capeknya gimana. Soalnya saya juga pernah di posisi yang kerja nya sedikit gila juga. Sedangkan untuk saat ini saya sudah tidak bekerja kantoran.

Alhamdulillah saya pribadi seneng aja dan emang tipe orang yang suka dirumah ngerjain apa aja (bukan dirumah santai santai kayak di pantai dan tidur lho ya, catet!! karena saya pernah dinyinyirin gitu dan rasanya suebeell banget).

Latar belakang keluarga saya, bapak mencari nafkah, ibu full di rumah tapi terbilang "working at home mom". Jadi saya fine-fine aja dengan keadaan sekarang.

Sebelum punya baby, saya adalah  "Working at home wife", tapi setelah ada baby dan sampai sekarang usianya 8 bulan kok rasanya gempor banget nih badan kalau saya juga ngerjain bisnis kecil-kecilan saya yang sudah terbangun dulu, bisa-bisa ada hak suami, hak anak saya, kerjaan domestik rumah, atau hak istirahat saya yang tidak terpenuhi. Okelah saya jadi FTM dulu, sambil mempelajari polanya, siapa tahu ada kesempatan jadi WAHM suatu saat nanti.

Sebagai FTM, hal yang selalu ibu saya ingatkan ke saya adalah harus pandai mengatur waktu supaya bisa seimbang "ngladeni" suami, anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Harus bisa me-manage waktu dan kerjaan rumah, semacam selalu ada to do list di kepala dan bikin urutan waktu pengerjaannya yang tiap hari berbeda-beda tergantung kondisi. Me-manage waktu itu penting banget bagi seorang ibu supaya gak "modyar" dan tetep "yahood" karena memang rasanya 24 jam sehari itu gak ada cukupnya, ada aja yang belum beres entah kerjaan rumah atau momong anak, rasanya berputar terus seperti siklus. Saya sendiri belajar banyak dari ibu saya tentang manajemen waktu ini.

Selain itu ibu juga berpesan, sebisa mungkin jangan menuntut suami mengerjakan pekerjaan rumah tangga kecuali atas kemauannya sendiri. Dan tak pernah lupa juga beliau selalu ingatkan walau ada yang bilang cuma cuci piring, cuci baju, nyapu dsb...itu pahala nya luar biasa kalau kamu ikhlas dan niat karena Allah (kalau udah gini rasanya nyesss deh). Intinya syurga bisa diperoleh dari rumah untuk para istri dan ibu, istimewa sekali bukan?? Dan ini sumber semangat saya dan selalu membuat saya berkaca-kaca.

Ada galaunya gak jadi FTM? Ada dong, saat lagi capek, buka Instagram untuk memperbaiki mood, eh ketemunya akun yang lagi ngepost "suami yang baik adalah yang mau membantu pekerjaan rumah tangga istrinya...nyuci piring, ngepel, nyapu, mandiin anak, ganti popok anak..dst" disertai ilustrasi yang aduhai idealnya, duuh rasanya syukur saya kepada suami yang sudah saya bangun tiba-tiba retak deh...

Trus, baca postingan temen yg bersyukur banget punya suami yang istilah garis besarnya bisa "ngladeni" si istri, ya mau masakin, bersih-bersih rumah, bikinin ini itu, nganter kesana kemari dsb.... duuh rontok lagi bangunan syukur saya.

Oya ada lagi kalau temen sejawat pendidikan karirnya melejit, anaknya baik baik, suaminya juga bisa ngimbangin, ahh pokoknya keluarga ideal bangetlah, berasa nyungsep lah saya....kalau lagi futur parah bisa-bisa nyalahin ketentuan Allah deh. Kok saya g lolos tes CPNS sih, kenapa saya dulu resign dsb...ngeri kan.


Kalau sudah begitu saya butuh mengencangkan semangat, syukur, sabar dan ikhlas lagi biar tetep istiqomah dan tidak sampai bermuka masam serta uring-uringan ke suami dan anak. Caranya..... :
1. Berdoa sama Allah, curhat sama Allah biar pikiran jernih hati jernih dan mohon agar selalu diberikan rasa syukur setiap saat,


2. Cari apa aja yang bisa bikin mood kembali baik (cari postingan #ibuibulyfe, ngobrol dengan teman sesama FTM, ngepoin drakor yang lagi hits, dst),


3. Telpon ibu, karena biasanya di setiap perbincangan kami, ibu pasti menyelipkan nasehat-nasehat nya entah dalam bentuk cerita atau benar benar nasehat. Khusus kegalauan saya karena teman sejawat yang karirnya melejit, ibu selalu ingatkan...besok di akhirat mana dulu yang akan ditanya, mana yang utama....anak yang Allah amanahkan atau karirmu di luar rumah??

That's my medicine. Alhamdulillah sejauh ini benar-benar menenangkan.
Ya...mungkin itu sekedar cerita saya. Yang jelas entah itu FTM, WAHM, ataupun WM kita semua sama sebagai ibu dengan segala suka dukanya, yang beda adalah kondisinya. Intinya sebagai ibu tidak boleh lepas dari rasa syukur, sabar, ikhlas serta semangatnya. Ibu happy, suami dan anak happy.

Terakhir, makasih banget ya mbak byputy sudah memberikan saya alasan untuk nge blog lagi ...hihihi...

Semoga bermanfaat dan memberikan sudut pandang baru, karena saya juga sudah banyak banget ditambahi wawasan dan sudut pandang baru tentang motherhood dari ibu-ibu yang lain sehingga saya bisa lebih positif memandang hidup. Terimakasih...

Rutin Mencatat Pengeluaran yuk

Dalam pengelolaan keuangan ada hal paling sederhan tapi kadang tidak dilakukan karena tidak sempat atau terlalu ribet atau malas yaitu menc...